Jafran Terdiam.

1236 Kata

Setelah rapat warisan yang membekukan udara, rumah besar keluarga Abimana berubah senyap. Tak ada pesta kemenangan. Tak ada perayaan. Tak ada ucapan selamat dari para kerabat. Hanya lorong-lorong panjang yang dilapisi karpet mahal, kini terasa bagai jalur makam, sunyi dan dingin. Bahkan langkah kaki para pelayan terdengar enggan, seolah takut memecah keheningan yang menggantung berat di udara. Seharusnya hari ini menjadi hari kemenangan Jafran. Semua warisan, semua jabatan, semua nama besar Abimana tetap jatuh ke tangannya. Tapi entah mengapa, d**a Jafran terasa kosong. Bukan kosong yang menenangkan, melainkan kosong yang menakutkan. Malam itu, ia duduk sendirian di ruang kerja pribadinya. Ruangan yang biasanya memberi rasa berkuasa. Rak-rak buku berisi koleksi bisnis dan hukum berdiri

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN