Ruang rapat keluarga Abimana sore itu terasa seperti medan perang tanpa senjata. Tidak ada dentuman bom, tidak ada darah yang mengalir, tetapi udara dipenuhi ketegangan yang bisa menyesakkan d**a siapa pun yang masuk. Jendela besar di sisi timur memantulkan cahaya matahari sore yang keemasan, seolah berusaha menambahkan kehangatan pada ruangan yang sebenarnya dingin. Meja panjang berlapis kayu jati, warisan sejak generasi pertama Abimana, membentang angkuh di tengah ruangan. Kursi-kursi kulit hitam berjajar rapi di sekelilingnya, tapi hanya empat orang yang menempati posisi inti sore itu. Aksa Abimana, lelaki yang pernah ditakuti sekaligus dikagumi, duduk di ujung meja. Rambutnya memutih, tangan sudah gemetar karena usia, tetapi matanya masih menyimpan bara yang sama seperti saat ia mend

