Setelah acara lamaran Reza kepada Maya berlangsung secara sederhana namun penuh makna, malam itu mereka duduk berdua di teras hotel tempat Maya menginap. Angin malam Bali berembus pelan, membawa aroma laut yang samar. Tidak ada musik atau percakapan basa - basi. Yang ada hanya dua orang yang sedang menyusun ulang hidup mereka. Awalnya, rencana mereka cukup sederhana. Maya akan pulang ke Jakarta selama tiga hari, lalu kembali ke Bali untuk menemani Reza. Namun, setelah lamaran itu terucap, semuanya berubah. "Aku nggak mau ini setengah - setengah, Rez," kata Maya pelan, menatap lurus ke depan. "Kalau kita serius mau menikah, aku mau semua jelas." Reza mengangguk. Ia sudah memikirkan hal yang sama sejak siang tadi. "Jadi rencananya gimana?" tanya Reza. Maya menarik napas dalam. "Aku pul

