Lusa Maya akan pulang ke Jakarta. Kalimat itu terus berputar di kepala Reza sejak pagi, seperti alarm yang tidak bisa dimatikan. Waktu yang tersisa terasa semakin sempit. Itu berarti kesempatannya hanya hari ini dan besok tidak lebih. Kalau malam ini ia menginap di tempat Maya, berarti ia tidak bisa ke mana - mana. Pergerakannya akan terbatas, rencananya bisa berantakan. Padahal yang ia perlukan sebenarnya hanya satu benda kecil, tapi penuh makna, yaitu cincin. Soal tempat, suasana, bahkan waktu, semua masih bisa diatur. Tapi cincin tidak bisa ditunda, tidak bisa asal. Reza duduk di tepi tempat tidur kamarnya, punggungnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling bertaut. Ia menatap kosong ke depan beberapa detik, lalu meraih ponselnya. Hanya satu nama yang langsung terlintas di benakny

