Pagi itu apartemen kecil Nadira terasa lebih hidup dari biasanya. Meski matahari belum sepenuhnya naik, aroma kopi sudah memenuhi udara. Nadira bangun lebih cepat dari biasanya, entah karena kebiasaan atau karena ada seseorang yang kini tidur di kamarnya. Ia tersenyum kecil ketika teringat Bian yang semalam nyaris jatuh dari tempat tidurnya karena mungkin ukurannya kurang besar untuk mereka berdua. Saat itu ia yang panik, sementara pemilik badan seperti tidak peduli, Bian langsung menaikkan sebelah kakinya yang jatuh ke lantai itu lalu memeluknya seperti bantal guling, benar - benar menyeramkan. Nadira sudah keluar menuju dapur kecilnya, ia mau menyiapkan sarapan simple. Roti dipanggang, telur dikocok perlahan untuk dijadikan omelet, dan buah - buahan dipotong rapi ditambah yoghurt plain.

