Suasana rumah duka semakin malam semakin ramai. Lampu - lampu di halaman depan menyala terang, memantulkan bayangan orang - orang yang datang silih berganti. Suara lirih doa, bisik - bisik pelayat, dan lantunan ayat suci Al-Qur’an berpadu menjadi satu, menciptakan suasana yang khusyuk sekaligus pilu. Berita kepergian Papa Maya rupanya menyebar dengan cepat. Banyak handai taulan dan saudara yang baru sempat datang setelah mengetahui kabar tersebut di malam hari. Sebagian datang tergesa, masih dengan pakaian kerja, sebagian lagi datang dalam diam, membawa wajah duka yang sulit disembunyikan. Di dalam rumah, Maya duduk di dekat jenazah papanya. Ia tidak banyak bergerak sejak tadi. Di sampingnya, Mamanya dan adik - adiknya juga setia menemani. Sesekali mereka menyambut pelayat yang datang, m

