Lewat tengah malam, suasana rumah duka perlahan berubah ritmenya. Bukan menjadi sepi, karena orang - orang masih datang dan beberapa lainnya tetap bertahan untuk berjaga, tetapi percakapan yang sebelumnya terdengar cukup ramai kini mulai merendah, berganti dengan suara lirih doa dan obrolan pelan yang sesekali terdengar dari sudut - sudut ruangan. Di bawah tenda, beberapa tetangga masih setia duduk sambil berbincang ringan, menjaga bagian depan rumah, sementara di dalam, keluarga inti tetap berada di dekat jenazah, seakan enggan memberi jarak meskipun waktu sudah semakin larut. Reza yang sejak tadi memperhatikan Maya akhirnya mendekat dan duduk di sampingnya dengan hati - hati, berusaha tidak mengganggu konsentrasi istrinya yang masih menatap wajah papanya tanpa berpaling. Ia tahu, sejak

