Nadira terbangun lebih dulu meski langit di luar masih gelap. Tanpa alarm, tubuhnya sudah terbiasa terjaga di jam segini seperti di Edinburgh. Beberapa detik ia hanya berbaring diam, membiarkan matanya menyesuaikan pada remang kamar, sambil merasakan satu hal yang membuat jantungnya seketika terasa hangat, pelukan Bian yang melingkari pinggangnya dari belakang. Napas pria itu pelan dan teratur, menghembus lembut di tengkuknya. Ini sih gila… kok bisa-bisanya kami begini? Pikiran itu terlintas begitu saja, membuatnya nyengir malu sendiri. Situasi ini terasa jauh lebih intim dibanding apa pun yang pernah ia bayangkan. Tapi alih-alih panik atau kikuk, Nadira justru merasakan sesuatu yang berbeda, nyaman, aman. dan… bahagia. Tidak pernah ada di pikirannya mereka akan sampai seperti ini. Ia p

