Sekarang sudah masuk tiga puluh tujuh minggu usia kehamilan Nadira. Angka itu terus berputar di kepala Nadira sejak pagi. Ia duduk di sofa ruang keluarga dengan kaki sedikit ditinggikan, satu tangannya memegang perutnya yang kini terasa jauh lebih berat dari minggu - minggu sebelumnya. Gerakan kecil dari dalam perut membuatnya tersenyum, lalu cemas di waktu yang sama. "Sebentar lagi ya," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Harap - harap cemas menjadi perasaan yang paling sering ia rasakan akhir - akhir ini. Setiap kali perutnya terasa kencang sedikit saja, jantungnya langsung berdebar. Setiap nyeri kecil, pikirannya langsung melompat ke berbagai kemungkinan. Itu biasa terjadi pada setiap calon ibu, apalagi anak pertama. Bian sangat menyadari perubahan itu. Selama satu mingg

