Pagi datang dengan pelan, seolah memberi waktu bagi rumah itu untuk bangun tanpa tergesa setelah subuh tadi. Cahaya matahari menyelinap lewat celah gorden, jatuh lembut di ranjang. Nadira terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung bergerak. Tangannya refleks diletakkan di perutnya yang besar, merasakan gerak kecil yang sudah dikenalnya seperti bahasa rahasia. Bian masih terlelap di sampingnya. Wajahnya tampak lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir. Nadira tersenyum sendiri. Ia menggeser tubuhnya sedikit, berhati - hati, lalu mengusap lengan suaminya. "Sayang," panggilnya pelan. Bian menggumam, lalu membuka mata setengah. "Jam berapa?" "Nggak tahu." "Itu bukan jawaban, sayang," katanya sambil tersenyum malas. Nadira terkekeh kecil. "Mungkin jam delapan lewat dikit, udah terang

