Delapan Bulan

2413 Kata

"Astagfirullahaladzim!" Mama Jani sampai beristighfar begitu pintu kamar bayi dibuka lebar. Ia berdiri di ambang pintu beberapa detik, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang sejatinya masih berbau wallpaper yang baru dipasang tiga hari yang lalu. Warna dinding pastel yang lembut nyaris tak terlihat karena sebagian besar ruang sudah dikuasai oleh tumpukan kantong belanja dan dus-dus berbagai ukuran. Semuanya masih rapi tersegel, disusun berlapis-lapis di pojokan kamar, bahkan ada yang sampai merapat ke bawah jendela. Mama Jani melangkah masuk perlahan, seolah takut tumpukan itu tiba - tiba runtuh. Tangannya refleks menutup d**a, lalu kembali mengusap keningnya pelan. "Kalian belanja apa aja?" tanyanya, suaranya terdengar menahan antara kaget dan geli. Bian yang sejak tadi berdiri ber

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN