Pagi hari di apartemen Nadira dimulai dengan sesuatu yang … tidak terduga. Nadira membuka matanya perlahan. Seperti biasa, bukan hanya didalam kamarnya saja yang minim cahaya, diluar juga masih gelap. Tubuhnya masih nyaman dalam pelukan Bian yang semalam tertidur memeluknya erat seperti boneka beruang yang kelaparan perhatian. Nadira tersenyum kecil melihat pipi Bian yang menempel di atas rambutnya. Tapi tiba - tiba ia ingat sesuatu. Dengan suara serak bangun tidur, Nadira memanggil pelan. "Bi …" "Hmmm …" Bian masih setengah sadar. Nadira mengusap punggungnya. "Bi… tante Jani bilang apa kamu nggak angkat telepon kemarin?" Bian tidak langsung menjawab. Awalnya hanya terdengar gumaman tidak jelas. "Hmmm … tele … pon … apa …" "Telepon mama kamu, Bi. Kamu udah telepon balik nggak?" D

