Nadira terdiam sesaat. Bibirnya melengkung membentuk senyum kecil. "Kamu dari tadi juga udah nempel kayak perangko, Bi." "Belum cukup." "Belum cukup? Cukupnya kayak apa?" "Aku mau mencoba yang lain, Nad." Wajah Nadira memerah. "Kamu mau ngapain?" tanya Nadira. "Nggak akan aku jelaskan, tapi kamu bisa merasakan," jawab Bian mengundang rasa penasaran Nadira. Bian meraih pinggang Nadira sekali lagi, membantu perempuan itu duduk menghadapnya, kedua kaki Nadira memeluk pinggang Bian secara alami. Nadira menahan napas, di bawah sana ada yang mengganjal. Ia memegang bahu Bian agar tetap stabil. "Apa harus gini," tanya Nadira, pipinya memerah. "Ya, begini lebih enak." Lalu, tanpa terburu - buru, Bian mencium Nadira lagi, kali ini paling lama. Nadira mendorong jari - jarinya ke rambut Bi

