Langit London sudah mulai gelap ketika Nadira akhirnya membuka pintu apartemen Reza. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 sore. Tubuhnya terasa lengket oleh udara rumah sakit yang pengap, kakinya pegal, kepalanya berat. Seharian tadi ia hanya duduk di ruang tunggu ICU, tidak masuk, hanya memantau dari luar karena giliran besuk sudah ia gunakan pagi hari. Ia bilang pada dirinya sendiri, hari ini cukup. Ia butuh jeda, ia bergantian dengan Kelly. Tas ia letakkan begitu saja di sofa. "Aku mandi dulu," gumamnya pelan, lebih ke kebiasaan bicara sendiri daripada benar-benar niat langsung bergerak. Belum sempat ia melangkah ke kamar mandi, ponselnya bergetar keras di atas meja. Nama Kelly muncul di layar. Jantung Nadira langsung turun. Baru kali ini dia tidak suka melihat panggilan telepon d

