Check In

2632 Kata

Angin sore menyapu area pemakaman itu dengan pelan, menggerakkan ujung-ujung daun yang gugur di antara nisan. Langit mendung, seolah ikut menahan napas. Nadira berdiri di sisi Reza, satu lengannya merangkul bahu lelaki itu yang duduk di kursi roda. Kelly berdiri di depan mereka, tepat di hadapan batu nisan bertuliskan nama Robert. Tidak ada siapa-siapa lagi. Hanya mereka bertiga dan kesunyian yang terasa terlalu padat. Reza menunduk, kedua tangannya bertumpu di paha. Tangisnya tidak meledak, tidak meraung. Air mata jatuh satu-satu, sunyi, seperti hujan yang ragu untuk turun. Dadanya naik turun, tertahan, seolah setiap tarikan napas adalah usaha besar untuk tetap tegak. "Rez... maaf ya... aku nggak berterus terang dari kemarin," ucap Nadira pelan, suaranya bergetar. Ia merapatkan pelukan,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN