Pagi itu, langit Jakarta tampak lebih cerah dari biasanya. Nadira duduk di kursi penumpang mobil Bian dengan tangan bertaut di atas perutnya yang sudah sedikit membuncit daripada biasanya. Bulan ketiga kehamilan. Trimester pertama yang rasanya seperti perjalanan panjang tanpa peta. Mualnya masih datang dan pergi. Ada hari-hari ketika ia bisa tertawa, makan, bahkan berjalan-jalan tanpa drama. Ada juga hari ketika ia hanya bisa berbaring, menunggu Bian pulang seperti menunggu oksigen. Tapi satu hal tidak berubah, selama ada Bian, semuanya terasa lebih bisa dilalui. "Kamu siap?" tanya Bian sambil melirik ke arahnya. Nadira mengangguk. "Siap. Mama juga sudah siap?" Mama Jani duduk di kursi belakang, mengenakan blouse sederhana berwarna krem. Ia tersenyum lembut. "Siap dong. Mama penasaran

