Ruang terapi itu tenang, terlalu tenang sampai Maya bisa mendengar detak jam di dinding. Cahaya lampu dibuat redup, aromaterapi lavender menguar lembut, menenangkan, meski dadanya masih terasa berat. Maya berbaring di sofa empuk dengan kedua tangan diletakkan di atas perut, seperti yang diarahkan terapis di hadapannya. "Tarik napas pelan-pelan, Maya," ujar sang terapis seorang wanita sedikit lebih tua dari Maya, suaranya rendah dan stabil. "Fokus ke napasmu. Tidak perlu memikirkan apa pun dulu." Maya menurut. Ia menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Beberapa kali. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak sepenuhnya kosong. Selalu ada satu wajah yang muncul setiap kali ia mencoba tenang. "Kalau ada perasaan yang muncul, biarkan saja. Tidak perlu dilawan," lanjut terapis itu. "Cuku

