'Aku Nggak Sekuat Kelihatannya'

2338 Kata

Ruang terapi itu tenang, terlalu tenang sampai Maya bisa mendengar detak jam di dinding. Cahaya lampu dibuat redup, aromaterapi lavender menguar lembut, menenangkan, meski dadanya masih terasa berat. Maya berbaring di sofa empuk dengan kedua tangan diletakkan di atas perut, seperti yang diarahkan terapis di hadapannya. "Tarik napas pelan-pelan, Maya," ujar sang terapis seorang wanita sedikit lebih tua dari Maya, suaranya rendah dan stabil. "Fokus ke napasmu. Tidak perlu memikirkan apa pun dulu." Maya menurut. Ia menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Beberapa kali. Matanya terpejam, tapi pikirannya tidak sepenuhnya kosong. Selalu ada satu wajah yang muncul setiap kali ia mencoba tenang. "Kalau ada perasaan yang muncul, biarkan saja. Tidak perlu dilawan," lanjut terapis itu. "Cuku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN