Reza tiba di rumah Nadira ketika jam masih menunjukkan pukul delapan kurang sedikit. Udara pagi di rumah Nadira terasa lebih sejuk dibanding apartemen Maya, tapi itu tidak banyak membantu meredakan sesak di dadanya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada sopir taksi yang mengantarnya, Ia turun dari mobil dengan gerakan pelan, seolah tidak ingin kehadirannya terlalu kentara. Reza menekan bel yang ada di sudut pagar tertutup itu, ia tidak bisa melihat ke dalam karena tidak ada celah sedikitpun. Pintu pagar yang kecil untuk lalu lalang orang pun dibuka, penjaga depan langsung mengenali Reza. "Selamat pagi, Pak," sapanya ramah sambil sedikit menganggukkan kepalanya. "Pagi, Ibu ada ya?" "Ada Pak .... Bapak juga ada belum berangkat." "Ok.." Reza berjalan masuk, sementara sang security m

