Untunglah setelah dicek oleh mantri kampung, tidak ada luka parah pada Marcel. Tubuhnya hanya penuh lumpur, beberapa goresan kecil, dan memar di bahu akibat menghantam batang pisang. Meski begitu, kejadian itu cukup mengguncang Vita. Sejak hari itu, sikapnya berubah tanpa ia sadari. Ia tidak lagi menepis tangan Marcel dengan kasar atau menyuruhnya pergi setiap kali laki-laki itu muncul. Ia tetap sinis, tetap bersuara datar, tetapi ada kelembutan halus dalam caranya menatap Marcel, seolah ketakutan yang ia rasakan di tepi curam itu masih tersisa, menjadi benih kecil dari sesuatu yang belum ia beri nama. Sisa tiga hari liburannya di kampung terasa melambat, hangat, dan tidak se-chaotic sebelumnya. Mereka lebih sering ke ladang bersama, sekadar menabur pupuk, memetik cabai yang sudah merah,

