Penghinaan

2344 Kata

Tentu saja perkataan Layla sangat membekas di hatinya. Rangga, yang menyadari perubahan pada raut wajah Vita setelah keluar dari toko buku, memilih untuk tidak mendesak. Ia hanya menemaninya dengan tenang, mengantar ke toko kecil membeli beberapa camilan, lalu mengarahkan mobil kembali ke hotel. Kehangatan Paris seakan tak berarti apa-apa bagi Vita yang duduk di sampingnya dengan senyum palsu. Ketika akhirnya mereka tiba, Rangga menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya berharap, suatu saat Vita akan membuka diri dan bercerita. “Gak papa ‘kan? aku tinggal.” “Loh? Ya gak papa, kan kamu ada kerjaan. Lagian aku juga punya agenda seharian ini, sebelum lusa pulang ke Indonesia,” ucap Vita mencoba meyakinkan. Begitu sendirian di kamar hotelnya, Vita melepaskan sepatunya, lalu men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN