Vita pikir semuanya akan selesai setelah dia bicara dengan Lucien. Namun rupanya, takdir belum sepenuhnya menutup pintu. Baru saja ia menapaki karpet di lorong utama menuju pintu keluar mansion Montegard, sebuah suara lembut memanggilnya dari belakang. “Vita.” Nada itu terlalu halus untuk dianggap dingin, tapi cukup tajam untuk membuat jantungnya melompat. Vita menoleh pelan, dan di sana, berdiri Layla yang menawan dalam balutan coat putih gading dan topi bertepi lebar yang memancarkan aroma parfum khas kelas atas, yang mahal dan menusuk. “You’re leaving already?” Layla melangkah anggun mendekat, senyumnya ramah, tapi tatapan matanya tak bisa disembunyikan. Ia tengah menilai, mengukur. “Biarkan aku mengantarmu ke hotel, ma chère. Aku kebetulan juga akan keluar.” “Tidak perlu, Layla,” j

