Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Nayara berkata lirih, “Aku cuma ingin kamu jujur. Sekali saja. Jujur, Mas. Apa kamu masih punya perasaan untuk dia?” Pertanyaan itu menggantung di udara seperti pisau di atas kepala Arga. Ia ingin menjawab cepat, tapi lidahnya kelu. Setiap kata terasa salah. Ia menatap mata Nayara — mata yang dulu menjadi rumah baginya. Dan sekarang, rumah itu retak di setiap sudutnya. “Tidak,” jawabnya akhirnya. “Aku nggak punya perasaan apa-apa lagi. Aku cuma ingin semuanya kembali tenang.” Nayara menatapnya lama, seperti sedang menilai apakah kata-kata itu datang dari hati atau sekadar pertahanan diri. “Kalau gitu, buktikan. Jangan pergi lagi setiap kali Shanaya meneleponmu. Jangan pakai alasan ‘aku cuma mau bantu’. Karena setiap kali kamu pergi, kepercayaan

