Nayara akhirnya duduk di seberang Arga, tapi tak sekalipun menatap pria itu. Ia tampak sibuk mengelap sisa tumpahan s**u di meja, seolah pekerjaan kecil itu bisa menutupi ketegangan besar yang membungkus udara di antara mereka. Arga menarik kursi, duduk perlahan. “Dharma, tadi malam Ayah janji kan, nggak akan bertengkar lagi sama Bunda. Ayah pengen kita mulai hari ini lebih baik. Gimana?” Dharma berhenti mengunyah. “Tapi Ayah bohong, kan?” Kalimat polos itu membuat suasana membeku. Shaila berhenti menggambar, menatap kakaknya. Nayara menatap ke arah anak-anak, tapi tetap diam. Arga terdiam sejenak, lalu menatap anak sulungnya itu dengan lembut. “Ayah nggak bohong, Nak. Cuma … kadang orang dewasa susah buat jujur dengan caranya sendiri. Tapi Ayah berusaha.” “Kalau Ayah berusaha, kenapa

