Pagi ini, kantor Jiva terasa seperti biasa—tenang, profesional, dan tertata rapi. Dia baru saja menyelesaikan satu pertemuan hukum dengan klien penting ketika pintu ruangannya diketuk. “Pak Jiva,” suara Dira, resepsionis, terdengar pelan. “Ya, ada apa?” “Maaf, ada tamu yang ngotot ingin bertemu Bapak. Namanya Mita. Katanya kenal dekat.” Jiva mengerutkan dahi. Nama itu seperti bau menyengat yang tidak ingin dia ingat kembali. “Suruh tunggu di ruang tamu saja. Lima menit.” Setelah menarik napas panjang dan merapikan letak jasnya, Jiva berjalan keluar ruangannya, menuju ruang tamu VIP kantor. Dan di sana—duduk dengan gaya sok anggun dan senyum terlalu lebar—ada Mita. “Pak Jiva.” sapa Mita dengan suara mendayu-dayu yang membuat bulu kuduk pria itu sedikit berdiri. Jiva duduk dengan tub

