Licik yang Terlatih

1017 Kata

Langit Jogja mulai menghitam meski belum malam. Awan-awan menggulung, seakan ikut mempersiapkan pertarungan besar yang akan segera pecah. Di salah satu mobil hitam yang melaju membelah jalanan kota, Jiva duduk di kursi penumpang depan, rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah jalanan yang mulai ramai. "Dia sudah sadar kita pantau," desis Jiva tanpa mengalihkan pandangan. "Dia terlalu tenang. Terlalu siap. Ini bukan pelarian dadakan." Ivan yang duduk di belakang membuka laptopnya, memperlihatkan pelacak GPS yang disematkan di bawah bumper mobil Rania. Titik merah itu bergerak cepat, menuruni jalanan menembus arah Imogiri, lalu tiba-tiba—hilang. "Lost signal!" seru Ivan, meninju laptopnya. "Dia tahu posisi alat. Kita terlambat dua menit!" Jiva menahan umpatan. “Dia main di level

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN