Dua Nama, Dua Bahaya

933 Kata

Cahaya dari lampu gantung ruangan rawat inap jatuh lembut di wajah pucat Jiva. Selang infus terpasang di tangan kirinya. Monitor detak jantung berdetak tenang. Udara di dalam ruangan sejuk, tapi atmosfernya begitu tegang. Salwa duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Jiva erat. Matanya sembab, rambutnya kusut, tapi senyum kecil menghiasi wajahnya ketika melihat kelopak mata suaminya perlahan terbuka. “Aa’—” bisiknya nyaris tak terdengar. Jiva menoleh pelan, butuh waktu untuk fokus. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya. “Sayang—” Tangis Salwa pecah lagi. Tapi kali ini bukan karena takut—melainkan lega. “Aa’ bikin aku hampir gila,” ujar Salwa sambil mencubit pelan jemari Jiva. “Lain kali jangan jadi pahlawan sendirian!” Jiva tertawa kecil meski tampak kesakitan. “Kamu tahu aku nggak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN