Bayang-Bayang di Balik Pintu

1003 Kata

Salwa masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat, tangan kirinya terpasang infus. Di sisi lain ruangan, Jiva berdiri tanpa suara, menatap istrinya seperti hendak memindai luka yang tak terlihat mata. Matanya memerah, dadanya sesak. Bukan hanya karena khawatir, tapi juga karena merasa gagal. “Kenapa aku terlambat sadar?” bisiknya lirih. Jiavala masuk, menyodorkan hasil pemeriksaan. “Kondisi Salwa menurun karena tekanan psikis. Kalau begini terus, bukan cuma kandungan yang terancam. Salwa juga bisa—collapse total, Jiv.” Jiva mengepalkan tangan. Napasnya memburu. “Siapa pun yang bikin Salwa begini, akan aku buat jatuh. Satu-satu.” Tiba-tiba, ponsel Jiavala bergetar. Dia membuka pesan masuk. Wajahnya menegang. “Ada seseorang mengawasi kamar rawat Salwa. Kami berhasil men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN