Langit mendung menyelimuti kota Jogja, seakan menjadi pertanda bahwa sesuatu yang besar tengah bergolak di bawahnya. Di lantai tertinggi kantor firma hukum milik Jiva, ruang rapat yang biasanya sunyi mendadak terasa seperti ruang interogasi. Aroma kopi yang menyengat, beradu dengan ketegangan yang menggantung di udara. Ivan masuk dengan map tebal di tangan. Matanya sayu, tangan kanannya masih diperban akibat kecelakaan tempo hari, tapi langkahnya mantap. "Mas Jiva," sapanya pelan. "Aku dapet data baru soal wanita yang bekerjasama dengan Mita." Jiva menoleh cepat dari jendela. Sorot matanya gelap, tajam seperti peluru. "Siapa dia?" Ivan menarik kursi dan membuka map. Dia mengeluarkan foto-foto yang sebagian tertutup highlight merah. Salah satunya, gambar buram seorang wanita dengan kaca

