Kabar Bahagia di Tengah Luka

897 Kata

Di salah satu kamar rawat, Salwa duduk di sisi ranjang Jiva. Tangannya menggenggam tangan suaminya erat, seolah tak ingin ke mana-mana lagi. “Minum dulu,” bisik Salwa pelan sambil menyodorkan segelas air hangat. “Katanya luka seperti itu butuh banyak cairan.” Jiva mengangguk lemah. Luka tembak di perutnya baru saja dibersihkan dan perlahan membaik, meski nyerinya masih terasa. Tapi matanya menatap Salwa dengan keteduhan yang tak bisa ia sembunyikan. “Terima kasih ya, Sayang—sudah kuat sampai sekarang.” Salwa tersenyum samar. “Harus kuat. Kalau nggak, siapa lagi yang nyuapin Aa’?” Sebelum Jiva sempat membalas candaan itu, pintu kamar diketuk dua kali. Tok. Tok. Papi Sultan masuk, mengenakan jas panjang dan syal. Wajahnya serius, tapi ada semburat lega yang tak bisa disembunyikan. “J

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN