“A-aku ...” Tatapan Kirana menyapu seluruh pandangan yang kini tertuju padanya. “Ini ... apa maksudnya?” Kirana terkekeh hambar sambil mengusap tengkuknya. Bukannya tidak tahu dengan maksud Gavin, tetapi, Kirana benar-benar syok menghadapi sebuah lamaran yang tidak pernah terduga. Terlebih, Gavin melakukannya di saat mereka mengadakan makan malam dengan keluarga Djiwa. “Pak Gavin ngelamar, Mama,” ucap Nila memperjelas. Ia tahu Kirana mengerti dengan maksud Gavin, mamanya hanya butuh waktu untuk memproses semuanya. Kirana menatap Nila, lalu beralih kembali pada Gavin yang masih memegang kotak cincin yang terbuka, dengan ekspresi penuh harap. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Tangannya mengepal di pangkuan, berusaha menstabilkan perasaannya yang mendadak kacau. Kirana, benar-benar t

