Lingga begitu senang pergi bertiga bersama buma dan pak guru kesayangannya. Dalam benaknya, seperti inilah yang namanya keluarga. Sambil menggenggam tangan buma dan pak gurunya, Lingga tersenyum lebar. Kakinya terayun lebar. Tidak sabar untuk segera masuk ke tempat makan. “Lingga bahagia sekali.” Runa melirik ke samping. Tersenyum tidak enak hati melihat putranya mendongak dengan senyum lebar. “I-iya. Terima kasih.” Runa menggenggam tangan kecil sang putra lebuh erat. “Besok kita bisa temani Lingga ke time zone, lalu nonton.” Lingga langsung menoleh, mendongak menatap sang guru dengan sepasang mata berbinar. “Benarkah?” “Lingga … pak Guru sibuk. Kita bisa pergi berdua.” “Diantara kita berdua, kurasa kamu lebih sibuk, Runa. Mengurus acara pernikahan orang itu tidak mudah.” Rama akhirn

