Tubuhnya gemetar hebat, dan napasnya pendek-pendek. Bayangan wajah dingin Kalandra di restoran tadi terus berputar di kepalanya. Kalimat Kalandra yang berjanji akan memasukkannya lagi ke penjara terasa seperti lonceng kematian. "Aku nggak mau balik ke sel lagi. Nggak mau," racaunya sambil memeluk lutut. Alisa mulai menjambak rambutnya sendiri. Matanya terlihat kosong dan stres. Dia merasa tidak berniat jahat, dia hanya ingin diperhatikan dan hidup bebas, tapi sekarang semuanya justru berantakan. Pintu kamar terbuka. Violin masuk dan melihat anaknya yang sudah seperti orang gila di lantai. Violin langsung menghampiri, berlutut, dan memegang bahu Alisa dengan kuat. "Alisa, tenang! Lihat Mama!" bentak Violin. Alisa mendongak dengan wajah basah kuyup oleh air mata. "Mama, Kalandra b

