Aku memarkirkan mobil dengan tergesa di depan pintu utama. Segala kemarahan dan rasa muak yang tadi memuncak di restoran privat itu seolah luruh seketika saat aku melihat bayangan seseorang dari balik kaca pintu. Begitu aku melangkah masuk, Alea sudah berdiri di sana dengan wajah gelisah. Tanpa berkata apa pun, Alea langsung menghambur ke pelukanku. Ia melingkarkan tangannya erat di pinggangku seolah takut aku akan pergi lagi. "Kenapa lama sekali, Mas? Aku cemasin kamu banget," bisiknya dengan suara yang bergetar. Aku memejamkan mata, menghirup aroma tubuhnya yang selalu berhasil menjadi penenang paling ampuh bagi jiwaku. Aku tidak menjawab pertanyaannya, melainkan menuntunnya berjalan menuju sofa di ruang tengah. Aku duduk dan menarik tubuhnya dengan lembut agar ia duduk di pa

