Dua hari berlalu sejak kejadian kotak teror itu. Suasana di penthouse perlahan kembali kondusif. Kalandra menepati janjinya untuk tidak lagi mengurung Alea di kamar, namun dia memastikan pengamanan diperketat tiga kali lipat. Tidak ada celah bagi lalat sekalipun untuk masuk tanpa izin. Pagi ini, Kalandra duduk santai di balkon penthouse sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Matanya mengawasi Alea yang sedang tertawa bersama Ibu Marine di ruang tengah. Pemandangan itu cukup untuk membuat detak jantung Kalandra kembali berirama normal. Drrt. Drrt. Ponsel di meja bundar kecil bergetar. Kalandra melirik layar ponselnya. Keningnya berkerut saat melihat nama yang tertera di sana. Elang Pratama. Pengacara pribadinya sekaligus orang kepercayaannya itu seharusnya sedang menikmati mas

