Pagi itu Jakarta diselimuti awan mendung yang menggantung rendah, seolah alam turut merasakan ketegangan yang bakal terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. "Ingat apa yang Elang sampaikan tadi malam," suara Kalandra memecah keheningan di dalam kabin. "Jangan tatap mata mereka. Fokus pada hakim atau lihat aku. Mereka akan mencoba memancing emosi kamu, terutama Alisa." Alea mengangguk pelan. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena rasa muak membayangkan harus menghirup udara yang sama dengan orang-orang yang hampir menghancurkan hidupnya. "Aku siap, Mas. Ada kamu dan Ibu." Ibu Marine menoleh sedikit ke belakang. "Kita tidak datang sebagai korban yang menyedihkan, Alea. Kita datang sebagai penuntut keadilan. Tegakkan kepalamu." Mobil berbelok memasuki ge

