Kenikmatan kuah kaldu sapi yang gurih dan pedas itu ternyata hanya bertahan lima belas menit di lidahku. Saat suapan terakhir baru saja meluncur melewati tenggorokan, perutku tiba-tiba bergejolak hebat. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas lambungku dengan kasar, memutar isinya tanpa ampun. Keringat dingin langsung merembes di pelipisku. "Mas..." panggilku lirih. Tanganku gemetar mencengkeram lengan kemeja Kalandra yang sedang minum air mineral. Kalandra menoleh cepat. Wajah santainya lenyap dalam sepersekian detik, berganti kepanikan total. "Kenapa, Sayang? Sakit perut?" Aku tidak sanggup menjawab. Mulutku terasa asam. Aku membekap mulutku rapat-rapat dengan telapak tangan, lalu bangkit dari kursi teras dengan gerakan limbung. Aku berlari secepat sisa tenagak

