Aku menyimpan ponsel di atas nakas dengan bunyi klik yang pelan. Sudut bibirku terangkat membentuk senyum miring yang penuh kemenangan. Aku tahu persis apa yang sedang terjadi di sana sekarang. Keheningan Alea adalah jawaban paling jujur bahwa dia baru saja kehilangan kendali akibat kata-kataku. "Puas, sayang?" gumamku pada kesunyian kamar. "Aku tahu kamu sedang mendesahkan namaku di sana." Aku menyandarkan kepala pada tumpukan bantal dan menatap langit-langit kamar yang temaram. Mataku kemudian beralih ke sisi ranjang di sebelahku, tepat di tempat Alea biasa berbaring saat dia masih tinggal di sini. Ini adalah kamar tamu di apartemenku, tempat yang pernah dia huni dan sekarang terasa sangat kosong, meski aromanya seolah masih tertinggal di bantal itu. Aku tertawa rendah, sebuah taw

