Keesokan harinya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ruang Sidang Utama penuh sesak. Wartawan, mahasiswa hukum, dan kerabat keluarga Atmaja memadati kursi pengunjung. Udara di dalam ruangan berpendingin sentral itu terasa panas dan menyesakkan. Kalandra duduk di baris paling depan, di belakang meja Jaksa Penuntut Umum. Di sebelahnya, Ibu Marine duduk dengan punggung tegak dan wajah sedingin batu, siap menyaksikan kehancuran adik iparnya yang berkhianat. Di kursi terdakwa, Prabu duduk dengan wajah merah padam menahan amarah. Di sampingnya, Violin terus menunduk sambil sesenggukan, sementara Alisa menatap kosong ke depan dengan tatapan penuh dendam. "Sidang perkara pidana nomor 345/Pid.B/2025 dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi," suara Hakim Ketua menggema melalui pengeras s

