197 - Waktu Intim Berdua (1)

2018 Kata

Aku menghempaskan punggung ke sandaran sofa kulit di ruang tengah penthouse. Rasanya tulang-tulangku mau lepas satu per satu. Sidang tadi benar-benar menguras nyawa. Bukan cuma fisik yang capek karena duduk tegak berjam-jam, tapi mental yang diperas habis-habisan. Menghadapi tatapan tajam Mahendra, mendengar teriakan Prabu, melihat tangisan palsu Violin. Semuanya menyedot energiku sampai kering. "Minum dulu, Sayang." Kalandra menyodorkan segelas air mineral dingin. Dia sudah melepas jas formalnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan digulung sebatas siku. Aku menerima gelas itu. "Makasih, Mas." Aku meneguknya sampai tandas. Dinginnya air membasuh tenggorokanku yang kering karena kebanyakan bicara di kursi saksi tadi. Kalandra duduk di sebelahku. Tangannya terulur memijat bahuku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN