"Bukan takut, Pak ... hanya belum terbiasa berhadapan dengan orang sepenting Anda," jawabku pelan, berusaha menjaga nada suaraku agar tetap terdengar lugu di depan pria ini. Prabu menyeringai, ia tampak sangat menikmati keteganganku. "Hampir semua orang di sini memang segan pada saya. Tapi tenang saja, Alea. Saya sangat menghargai mahasiswi yang tahu cara bersikap manis." Milen tertawa kecil, jemarinya masih asyik bermain di kerah jas Prabu dengan sangat berani. "Tuh, dengar kan, Lea? Pak Prabu itu baik banget kalau kamunya juga penurut. Nilai aman, beasiswa lancar, mau apa saja tinggal bilang. Ya kan, Pak?" Prabu tidak menjawab Milen, pandangannya justru semakin mengunci mataku. Ia mengabaikan Milen dan melangkah lebih dekat hingga aroma cerutunya menyelimutiku. "Milen benar. Ka

