Aku hanya bisa mengangguk, tanpa suara, terlalu takut untuk meminta Kalandra membelaku di hadapan Alisa. Ia mengantarku ke hotel mewah itu. “Aku akan kembali,” katanya, mencium keningku dengan cepat. “Jangan pergi ke mana-mana.” Kalandra segera pergi untuk menemui Alisa. Pintu kamar tertutup, dan keheningan seketika mencekikku. Di hotel aku tak bisa tenang. Aku berjalan mondar-mandir di karpet tebal kamar hotel. Segala kemungkinan kini bersarang di otakku. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa Kalandra akan menepati janjinya, tetapi aku tahu, darah lebih kental daripada air mata. Bagaimana jika Alisa, yang jelas putri kandung Kalandra, akhirnya membuat Kalandra tak lagi menaruh percaya padaku? Alisa hanya perlu meneteskan air mata, dan aku tahu hati Kalandra pasti luluh. Lagi-lagi aku me

