Di apartemen, suasana berubah menjadi neraka saat Prabu melemparkan dua amplop berisi tiket pesawat ke atas meja. Violin segera meraihnya, namun Alisa justru mundur dengan wajah pucat pasi. "Nggak akan berhasil ... ini nggak akan berhasil!" jerit Alisa histeris. "Pasti gagal, Ma!" Ia menjambak rambutnya sendiri, matanya melotot ketakutan. "Kalandra pasti sudah tahu. Dia pasti akan cari cara supaya kepindahan kita gagal! Kita bakal ditangkap di bandara, Ma!" Violin mencoba memeluk putrinya, berusaha menenangkan. "Alisa, dengar Mama! Ini satu-satunya jalan. Prabu sudah urus semuanya, kita akan aman di luar negeri!" Tapi Alisa tidak bisa tenang. Ia terus menjerit dan menangis sejadi-jadinya, membuat kebisingan yang memekakkan telinga. Ia merasa seperti sedang berjalan menuju jebaka

