Alisa berdiri mematung di pinggir jalan, matanya melotot lebar hingga terasa perih. Suara hantaman itu masih terngiang-ngiang di telinganya—bunyi tulang yang beradu dengan besi dan aspal. Ia melihat tubuh Alea terkapar, tak bergerak, sementara lampu mobil yang menabraknya masih menyala terang, menciptakan bayangan panjang yang mengerikan. "Ada kecelakaan!" "Tolong! Panggil ambulans! Ada yang ketabrak!" Teriakan orang-orang dari arah lobi dan petugas keamanan mulai terdengar. Kerumunan mulai terbentuk. Kesadaran Alisa tersentak kembali. Ketakutan yang amat sangat menjalar ke seluruh sarafnya. Jika dia ketahuan ada di sana, dia akan tamat. Dia bukan lagi terancam penjara karena kasus pencucian uang, tapi kasus pembunuhan. Dengan langkah seribu, Alisa berbalik dan lari sekuat tenaga

