Dia, seorang Kalandra Atmaja, menyerahkan kendali atas masa depan ahli warisnya sepenuhnya kepadaku, hanya karena dia tidak tega melihatku kesakitan. Rasa hangat yang berbeda menjalar di dadaku, mengalahkan rasa dingin akibat nyeri di perutku. Dengan sisa tenaga yang ada, aku menggeser tubuhku mendekat ke arahnya. Aku meraih lengannya, lalu menarik tubuh tegap itu hingga aku bisa melingkarkan lenganku di lehernya. "Mas Alan..." bisikku parau. "Terima kasih." Kalandra sempat tertegun sejenak menerima pelukan mendadakku, namun tak butuh waktu lama baginya untuk membalas. Tangannya yang besar mendekap punggungku, sementara tangan satunya lagi mengusap rambutku dengan sangat lembut. "Terima kasih untuk apa, Sayang?" tanyanya rendah, suaranya bergetar tepat di telingaku. "Terima kasih

