Aku merasa sepenuhnya aman. Kalandra kemudian merapikan pakaiannya dan membantuku kembali ke kursi penumpang. Setelah kami berdua mengenakan pakaian dengan benar, Kalandra menyalakan mesin mobil. "Mau ke mana, Om?" tanyaku. Aku penasaran, karena arah yang ia ambil berbeda dari arah menuju apartemennya. "Kita tidak akan kembali ke apartemen, Sayang," katanya dingin, pandangannya fokus pada jalanan. "Aku akan membawamu ke tempat yang tidak ada seorang pun tahu kamu berada, kecuali aku." Aku hanya mengangguk, membiarkan dia memimpin. Mobilnya melaju kencang, menembus lalu lintas kota. Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah gedung pencakar langit megah. Hotel itu sangat mewah, lobi depannya berkilauan dengan marmer dan kristal. Saat kami masuk, semua staf di sana membungkuk hormat padany

