Aku menatap Pak Andi, yang memucat pasi melihat ponselnya. Ketakutan di matanya membuatku sadar bahwa Kalandra tidak hanya kuat, tetapi juga bergerak cepat dan kejam. Aku tidak ingin berada di ruangan ini saat Pak Andi sadar bahwa dia baru saja kehilangan segalanya. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku tidak perlu membuang waktu. Aku berbalik dan aku hanya ingin segera keluar dari ruangan itu. Aku menarik pintu dan melangkah keluar, tetapi begitu keluar aku malah dicegat oleh Alisa. Dia berdiri di koridor sepi, bersandar di dinding. Tatapan Alisa menusuk, seolah menelanjangi pikiranku. Dia tidak lagi ceria seperti saat bicara dengan Bima. Dia adalah Alisa yang terluka dan penuh kebencian dari semalam. Aku berjalan cepat, dengan gemetar melewati Alisa, karena aku tahu Alisa tak mau bic

