Aku membeku. Aku merasa seluruh oksigen meninggalkan paru-paruku. Aku melotot. Mataku pasti sudah sebesar kancing baju. Seluruh ballroom bergemuruh, kaget, sekaligus penasaran. Mereka semua menoleh padaku. Aku, si pencuci piring dari kafe Nenek Marine, kini diperkenalkan sebagai calon istri Kalandra Atmaja. Nenek Marine, tidak peduli dengan reaksi heboh itu, hanya tersenyum padaku. Dia mengulurkan tangan ke arahku dari podium. "Namanya Aleandra Azzura, ayo naik, Nak." Nama lengkapku. Nama yang baru kusebutkan pada Nenek Marine kemarin. Nama yang jarang kugunakan. Aku menggeleng. Air mataku bahkan menetes refleks. Aku tak mungkin naik. Aku tidak bisa melakukan sandiwara ini, apalagi di hadapan pria yang baru saja berpura-pura tidak mengenalku. Aku menatap Kalandra. Pria itu berdiri di

