Kalandra tidak memberikan jawaban. Ia bangkit berdiri dengan gerakan yang tenang namun terasa sangat dingin. Meskipun begitu, tatapan matanya yang tajam tetap tertuju padaku, seolah ia sedang menahan sesuatu yang sangat besar di dalam dirinya. Aku ikut bangun dan menyeka sisa air mata di pipiku dengan kasar. Di tengah ruangan yang sunyi itu, kami berdua hanya saling diam, saling menatap dalam keheningan yang menyesakkan. "Apa Om benar-benar tidak ingat aku?" suaraku akhirnya keluar, terdengar pecah karena rasa sakit yang menumpuk. "Kenapa Om bersikap seolah kita tidak saling kenal? Ini aku, Alea. Tidak mungkin Om lupa!" Kalandra tetap terlihat tenang, tapi aku bisa melihat ada perubahan pada raut wajahnya. Rahangnya tampak mengeras, tanda bahwa ia sedang berusaha keras mengendal

