Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengusir rasa perih yang menyengat. Kelopak mataku terasa berat dan bengkak. Kepalaku berdenyut nyeri, sisa dari tangisan panjang semalam yang menguras habis energiku. Aku menatap langit-langit kamar yang asing. Biasanya, saat aku membuka mata, pemandangan pertamaku adalah wajah tenang Kalandra yang tertidur di sampingku, atau setidaknya punggung tegapnya yang sedang bersiap kerja di depan cermin. Tapi pagi ini hening. Sepi. Dingin. Ingatan tentang kejadian semalam langsung menghantamku seperti ombak besar. Kotak hitam itu. Boneka bayi yang hancur. Bau anyir. Dan teriakan Kalandra. "Kehidupan kamu sekarang cuma satu, bertahan hidup dan menjaga isi perut kamu!" Kalimat itu masih terngiang jelas, mengiris hatiku tipis-tipis. Rasanya s

