Cairan amber dalam gelas kristal itu berputar pelan saat aku menggoyangkannya. Aku menatap pantulan wajahku sendiri di permukaan wiski. Kusut. Berantakan. Menyedihkan. Ini wajah seorang pengecut yang baru saja melarikan diri dari air mata istrinya sendiri. Aku meneguk isinya dalam sekali telan. Panas alkohol membakar tenggorokan tapi gagal membakar rasa sesak di d**a. "Tuang lagi," perintahku datar sambil menyodorkan gelas kosong. Bartender pria di hadapanku menatap ragu. Dia melirik botol Black Label yang sudah setengah kosong di depanku. "Maaf Pak. Bapak sudah minum banyak. Sebaiknya air putih dulu." "Saya bilang tuang," desisku tajam. "Saya bayar gaji kamu setahun malam ini juga kalau kamu tutup mulut dan tuang lagi." Bartender itu menelan ludah. Dia tidak berani membantah. De

